Doa Berlindung Dari Syaitan

Dzikir & Doa Pilihan Syaikh Abdur Razzāq Hafizahullah · nomor 39 · Dari korpus

﴿١﴾أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ﴿٢﴾رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ ﴿٣﴾وَأَعُوذُ بِكَ أَن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيطَانُ عِندَ المَوتِ
1.“A'uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.” 2.“Robbi a'uudzu bika min hamazaatisy-syayaathiin, wa a'uudzu bika robbi an yah-dhuruun.” 3.wa'audzu bika 'an yatakhabbatani alshshaytan 'inda almaut
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”(81) "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan(82)Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku(83). (QS. Al-Mu’minun: 97-98) “Aku berlindung kepada-Mu agar tidak disesatkan setan ketika kematian”. (84)
CARA MENGHAFAL
RIWAYAT — PILIH SALAH SATU (3)

Terjemah di atas mencakup seluruh riwayat sekaligus dan tidak dapat dipisah per riwayat.

  1. أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
  2. رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
  3. وَأَعُوذُ بِكَ أَن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيطَانُ عِندَ المَوتِ
REFERENSI

(81) H.R. Ahmad no. 27205 (Bukhari no. 6048 dan Muslim no.2610 (82)Maksudnya: dari bahaya setan, was-wasnya, dan dari dimasukkannya akidah yang rusak ke dalam hati. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1715). (83) Yaitu dalam salatku, bacaan Al-Quranku, dzikirku, doaku, dan dalam kematianku. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1716) ])" (84) HR. Ahmad No. 8667, Abu Dawud No. 1552 dan dishahihkan al-Albani Al-Khathabi menjelaskan hadis di atas: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari disesatkan setan ketika datang kematian, bentuknya adalah setan mengganggunya ketika beliau hendak meninggal dunia, lalu setan menyesatkannya. Sehingga menghalanginya dari bertaubat atau menutupi dirinya sehingga tidak mau memperbaiki urusannya atau memohon maaf dari kedzaliman yang pernah dia lakukan. Atau membuat dia merasa putus asa dari rahmat Allah, atau membuat dia benci dengan kematian dan merasa sedih meninggalkan hartanya, sehingga dia tidak ridha dengan keputusan Allah berupa kematian dan menuju akhirat. Sehingga dia akhiri hidupnya dengan keburukan, lalu dia bertemu Allah dalam kondisi Dia murka kepadanya. Kemudian beliau juga membawakan sebuah riwayat bahwa tidak ada kesempatan yang lebih diperhatikan setan untuk menyesatkan manusia, selain ketika kematiannya. Dia akan mengundang rekan-rekannya, “Kumpul di sini, jika kalian tidak bisa menyesatkannya pada hari ini, kalian tidak lagi bisa menggodanya selamanya.” (Lihat : Aunul Ma’bud 4/287)

Sumber: bekalislam.online — Bekal Islam, Ustadz Firanda Andirja.