Kebaikan Dalam Keluarga · no. 4 · From the corpus
Translation shown in Indonesian — no English translation is available in this corpus.
(63) Ini adalah doa Nabi Zakaria yang Allah subhanahu wa ta'ala beri ujian berupa tidak memiliki keturunan hingga ia berusia tua, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'ala sebutkan dalam firman-Nya, ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَه زَكَرِيَّا ۚ﴿۲﴾ إِذ نادى رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا ﴿٣﴾ قالَ رَبِّ إِنّي وَهَنَ العَظمُ مِنّي وَاشتَعَلَ الرَّأسُ شَيبًا وَلَم أَكُن بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ﴿٤﴾ وَإِنّي خِفتُ المَوالِيَ مِن وَرائي وَكانَتِ امرَأَتي عاقِرًا فَهَب لي مِن لَدُنكَ وَلِيًّا ﴿٥﴾ يَرِثُني وَيَرِثُ مِن آلِ يَعقوبَ وَاجعَلهُ رَبِّ رَضِيًّا﴿٦﴾ “Yang dibacakan ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (QS. Maryam: 2-6) Dan Al-Qurthubi menjelaskan dari anak yang baik ini adalah keturunan yang saleh lagi diberkahi, dan maksud dari Allah subhanahu wa ta'ala mendengarkan doa adalah Allah subhanahu wa ta'ala maha mengabulkan doa. Dan ayat ini menunjukkan bahwa berdoa meminta anak adalah sunnahnya para rasul. (lihat: Tafsir Al-Qurthuby 4/72) (64) doa ini termaktub dalam surah al-Ahqaf: 15, وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".” Di dalamnya Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan hambanya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya bahkan hingga dewasa untuk tetap berbakti kepada kedua orang tuanya. At-Thahir ibnu ‘Asyur menjelaskan tentang doa ini bahwa artinya adalah meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta'ala untuk menambahkan pada dirinya bisa berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan memberikannya ilham untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadanya dan juga kepada kedua orang tuanya. (lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 26/31) Beliau menjelaskan mengapa disebutkan penyebutan “dewasa” dalam berbakti kepada kedua orang tuanya karena saat itu seorang anak lelaki memiliki tanggungan dalam mencari rezeki untuk istri anak, dan juga anak wanita memiliki tanggungan yang banyak dalam mengurus suami, rumah dan anak, sehingga pada usia dewasa adalah waktu perkiraannya disibukkannya mereka dengan tanggungan-tanggungan dan menyebabkan lali dalam berbakti kepada kedua orang tua, maka dengan ayat ini mereka diperingatkan agar tidak luput dari berbakti kepada kedua orang tua. Dan juga dalam ayat ini mereka diperintahkan untuk mendoakan kedua orang tuanya. (lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 26/32) Dan beliau juga menjelaskan selain mereka diperintahkan untuk mendoakan kedua orang tuanya maka jangan sampai mereka lalai dari memikirkan ke depannya dalam memperhatikan keturunan mereka sebagaimana orang tuanya dahulu memperhatikan mereka, agar kelak mereka mendapatkan kebaikan anak-anak mereka sebagaimana mereka berbuat baik kepada orang tuanya.( lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 26/33).
Source: bekalislam.online — Bekal Islam, Ustadz Firanda Andirja.