1. As-salamu 'alaykum.
2. As-salamu 'alaykum wa rahmatullah.
3. As-salamu 'alaykum wa rahmatullah.
4. As-salamu 'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.
5. As-salamu 'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.
“Semoga keselamatan tercurahkan atas kalian”. Dibaca sekali ketika menoleh ke kanan. (1)
“Semoga keselamatan serta rahmat Allah tercurahkan atas kalian.” Dibaca ketika menoleh ke kanan dan ke kiri. (2)
Translation shown in Indonesian — no English translation is available in this corpus.
Ucapan salam yang paling pendek, namun memenuhi rukun shalat adalah dengan mengucapkan (السَّلَامُ عَلَيْكُم) ‘Assalaamu’alaikum’. ([() Menurut Syafi’iyyah, Hanabilah dan Malikiyyah. Namun, Malikiyyah mengatakan bahwa (سَلَامُ اللَّه) atau (سَلَامِي) atau (سَلَامُ عَلَيْكُم) tidaklah sah.
Dan Syafi’iyyah membolehkan untuk mendahulukan lafadz (عَلَيْكُم), maka lafadz yang diucapkan adalah (عَلَيْكُم السَّلَامُ) meskipun dimakruhkan. Tidak disahkan jika mengucapkan (السَّلَامُ عَلَيْهِم). Namun, tidak pula membatalkan shalat, karena itu merupakan doa untuk yang ghaib. Jika hal itu dilakukan dengan sengaja padahal dia tahu akan keharamannya maka shalatnya batal. Tidak disahkan mengucapkan (سَلَامُ عَلَيْكُم).
Menurut Hanabilah lafadz-lafadz yang sah untuk diucapkan adalah (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ). Jika tidak mengucapkan (وَرَحْمَةُ اللهِ) maka shalatnya tidak sah, kecuali dalam shalat jenazah. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) shalat.” (H.R. Bukhari no.631).
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam sebagaimana yang telah diterangkan dalam beberapa hadits. Maka jika seseorang mengucapkan selain salam yang telah dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun dengan membalikkan lafadznya seperti (عَلَيْكُم السَّلَامُ), maka tidak sah. Dan apabila dilakukan dengan sengaja maka shalatnya batal, karena merubah lafadz salam sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Menurut Syafi’iyyah dan Malikiyyah salam yang wajib dikerjakan adalah satu kali salam, yaitu salam yang pertama. Namun, menurut Hanabilah wajib dua salam.
(lihat: Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/241, Mughnil Muhtaj Li As-Syirbiniy 1/177, Kassyaful Qina’ Li Al-Bahutiy 1/361 dan Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 27/72)])
Adapun ucapan salam yang sempurna adalah ucapan (السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ)
(1) Ketika bertanya kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tentang sholat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya beliau mempraktekkan tata cara salam Nabi:
وَذَكَرَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ عَنْ يَمِينِهِ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ عَنْ يَسَارِهِ
Ibnu Umar mengucapkan: “Assalamu alaikum wa rahmatullah.” ketika menoleh ke kanan dan mengucapkan: “Assalamu alaikum.” ketika menoleh ke kiri.” (HR. Nasa'i No. 1321, dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Dalilnya adalah hadits Alqomah Ibnu Wail dari ayahnya. Ia berkata:
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ»، وَعَنْ شِمَالِهِ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ»
“Aku sholat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau melakukan salam dengan menoleh ke kanan mengucapkan “assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh” dan menoleh ke kiri mengucapkan “asslaamu ‘alaikum”. (HR. Abu Dawud No. 997)
REFERENCE
(1) Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah ketika menjelaskan tentang sholat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
Kemudian mengucapkan sekali salam “assalaamu ‘alaikum”. (HR. Ahmad Dalam Musnadnya 43/129 No. 25987)
(2) HR. Ibnu Majah No. 914