Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyaah. Lahun ni’mah wa lahul fadhlu wa lahuts tsanaaul hasan.
Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.
“Tiada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada sesembahan (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Hanya milik-Nya segal nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada sesembahan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.” (1)
Translation shown in Indonesian — no English translation is available in this corpus.
(Tiada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya) Dalam kalimat ini terkandung akan pengesaan Allah dalam beribadah, dan hanya Allah satu-satunya dzat yang berhak untuk disembah, juga di dalamnya pensucian dari segala bentuk penyekutuan dalam ibadah.
(Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu) dalam kalimat ini terdapat penetapan akan keagungan Allah yang sangat besar, juga penetapan untuknya pujian-pujian atas segala nikmat yang tak terhitung yang diberikan kepada seluruh hambanya, dan juga menunjukkan kekuasaan Allah bahwasanya Allah maha mampu untuk melakukan apa yang Dia kehendaki sebagaimana yang terjadi dalam kisah Maryam yang Allah memberikannya seorang anak padahal ia belum pernah disentuh oleh lelaki,
قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ ۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَه كُنْ فَيَكُوْنُ ﴿آل عمران : ۴۷﴾
“Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Ali Imron: 47)
(Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah) dalam kalimat ini terkandung akan kelemahan seorang hamba juga pengakuan terhadap kebutuhannya terhadap apa yang disisi Allah, karena ketika seseorang tidak memiliki kemampuan apapun maka dia akan membutuhkan terhadap dzat yang memberikannya pertolongan dan kekuatan, dan tidak ada yang mampu membrikan itu semua secara hakiki kecuali Allah.
(Tiada sesembahan (yang hak disembah kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Hanya milik-Nya segala nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada sesembahan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci).
Dalam doa ini terkandung pengesaan Allah dalam kalimat ini terulang akan pengesaan Allah, karena seorang hamba sangat membutuhkan untuk terus memperbaharu niatnya dalam masalah mengikhlaskan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah, karena ikhlas bukanlah suatu perkara yang mudah, banyak sekali godaan dari syaithon yang berusaha menggelincirkan kita dari ini. Demikian juga seorang hamba mengakui pengesaan terhadap Allah dalam hal segala kenikmatan dan anugrah yang ia rasakan. Jika segala nikmat dan anugrah hanya dari Allah maka hanya Allah-lah yang semata-mata berhak untuk diibadahi.
Kemudian dijelaskan bahwa orang-orang kafir tidak suka ketika ummat muslim mentauhidkan Allah, dan mereka selalu berusaha untuk mengeluarkan kaum muslim dari agama islam dan mengikuti agama mereka,sebagaimana yang Allah firmankan,
وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS. Al-Baqoroh: 120)])