“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya.”(1)
“Ya Allah, rahmatMu yang aku harapkan, maka jangan Engkau serahkan urusanku kepada diriku meskipun sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.”(2)
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”(3)
“Allah, Allah adalah Tuhanku. Aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun.”(4)
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung dan Maha Lembut. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan yang menguasai arsy, yang Maha Agung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan yang menguasai langit dan bumi. Tuhan Yang menguasai arsy, lagi Maha Mulia.”(5)
Translation shown in Indonesian — no English translation is in this corpus.
(1) H.R. Ibnu Hibban no. 2427 dan dishahihkan oleh Al-Albani di Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 6/902
Maksudnya kemudahan ini Allah subhanahu wa ta'ala berikan kepada orang yang menempuh jalan agar mendapat kemudahan. (lihat: Syarhu Sunan Abi Dawud Libni Ruslan 19/62)
Maka dari sini kita pahami bahwa seseorang selain berdoa hendaknya ia mencari sebab agar yang ia mendapatkan yang ia harapkan.
(2) H.R. Abu Dawud no. 5090, Ahmad no. 20430 dan Ibnu Hibban no. 970 dan sanadnya hasan menurut Al-Albani. Ini adalah salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah ketika seseorang mengalami suatu kesulitan dan kegundahan. Doa ini sangat bermanfaat bagi orang yang tertimpa suatu kesulitan dan menghilangkan kesulitan tersebut apabila dia membacanya dengan sungguh-sungguh, menghadirkan hatinya, men-tauhid-kan Allah dan mengagungkanNya. (Faidhul Qadir 3/526)
‘Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari menjelaskan maksud dari “Ya Allah, rahmatMu yang aku harapkan, maka jangan Engkau serahkan urusanku kepada diriku meskipun sekejap mata” dikedepankannya objek yaitu rahmat Allah subhanahu wa ta'ala (karena dalam bahasa Arab urutan objek disebutkan setelah kata kerja atau predikat) untuk memberikan faedah kekhususan, maka ini melazimkan untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, seakan-akan orang yang berdoa dengan doa ini mengatakan: jika aku menyerahkan urusanku kepada-Mu maka jangan Engkau serahkan urusanku kepada diriku karena aku tidak mengetahui maslahat dan mafsadat urusanku, terkadang aku mengerjakan suatu urusan meyakininya baik ternyata berubah menjadi sesuatu yang rusak begitu juga sebaliknya.
(3) H.R. Tirmidzi no. 3505, Ahmad no. 1462 dan dishahihkan oleh Al-Albani
(4) H.R. Abu Dawud no. 1525, Ibnu Majah no. 3882 dan dishahihkan oleh Al-Albani. Rasulullah mengajarkan doa ini kepada Asma’ binti ‘Umais ketika mengalami suatu kesulitan (lihat: Fathul Bari Li Ibni Hajar 11/148).
(5) H.R. Bukhari no. 6346 dan Muslim 2730
“Allaahumma innii 'abduka, wabnu 'abdika, wabnu amatika (jika yang berdoa wanita maka diganti dengan : amatuka wabnatu ábdika wabnatu amatika)(54), naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, 'adlun fiyya qodhoo-uka, as-aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahu fii kitaabika, au 'allamtahu ahadan min kholqika, awista'tsarta bihi fii 'ilmil ghoibi 'indaka, an taj'alal qur-aana robii'a qolbii, wa nuuro shodrii, wa jalaa-a huznii, wa dzahaaba hammii.”
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, dan anak hamba perempuanMu(55)ubun-ubunku berada di tanganMu(56)hukumMu berlaku terhadap diriku(57) dan ketetapanMu adil pada diriku(58) Aku memohon kepadaMu dengan segala Nama yang menjadi milikMu, yang Engkau namai diriMu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisiMu, maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku.”(59)
Translation shown in Indonesian — no English translation is in this corpus.
(54)Meskipun dengan lafal yang pertama pun tidak mengapa, sehingga lelaki maupun wanita lafalnya sama. Akan tetapi yang lebih baik adalah dengan mengganti lafalnya tersebut.
(55) ini adalah pengakuan terhadap penghambaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. (lihat: Mirqootul Maffatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1701)]
Adapun jika lafalnya tetap maka lafal عَبْدٌ bisa digunakan untuk lelaki maupun wanita sebagaimana lafal الزَّوْجُ, yang bisa untuk suami maupun istri. Akan tetapi yang terbaik adalah dirubah. (Lihat penjelasan Ibnu Taimiyyah di Majmuu’ al-Fataawaa 22/488)
(56)maksudnya: tidak ada daya dan upaya kecuali dari-Mu. (lihat: Mirqootul Maffatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1701)]
(57) yaitu hukum-Mu yang berupa perintah atau hukum kauni berupa kehidupan, kematian, pemberian dan yang lainnya berlaku untuk diriku. (lihat: Mirqootul Maffatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1701)],
(58) maksudnya semua yang Allah subhanahu wa ta'ala tetapkan untuk diriku semuanya sesuai dengan hikmah-Nya. (lihat: Mirqootul Maffatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1701)].
(59) H.R. Ahmad no.3712 dan dishahihkan oleh Al-Albani di Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1/383]
“Segala puji bagi Allah yang telah menghindarkanku dari musibah yang menimpamu, serta memberikan kelebihan kepadaku atas sekian banyak ciptaan-Nya.”(1)
Translation shown in Indonesian — no English translation is in this corpus.
(1) H.R. Tirmidzi no.3432 dan dishahihkan oleh Al-Albani dan Ibnu Majah no.3892, dihasankan oleh Al-Albani. Rasulullah bersabda: “Tidaklah seseorang melihat orang yang tertimpa suatu bala’ atau musibah, lalu membaca doa ini, melainkan dia akan terhindar dari bala’ tersebut
“Qodarullaahi wa maa syaa-a fa'ala.”
“Alhamdulillaahi 'alaa kulli haal.” (2)
“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun, allaahumma ujurnii fii mushiibatii wa akhlif lii khoiron minhaa.”
“Ini taqdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”(1)
“Segala puji bagi Allah atas segala keadaan.”(3)
“Sesungguhnya kami milik Allah(4) dan kepadaNya kami akan kembali(5). Ya Allah, berilah pahala kepadaku(6) dan gantilah untukku dengan yang lebih baik (dari musibahku) (7).”(8)
Translation shown in Indonesian — no English translation is in this corpus.
(1) H.R. Muslim no. 2664. Dalam riwayat yang lain disebutkan:
قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
“Qoddarollaahu wa maa syaa-a fa'ala.”
“Allah telah menakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.” (H.R. Ibnu Majah no.79 dan dihasankan oleh Al-Albani)
(2) yaitu bagaimana pun yang Allah subhanahu wa ta'ala tetapkan maka sesungguhnya keadaan hamba semuanya adalah baik, dan ketetapan Allah subhanahu wa ta'ala yang menyenangkan dan yang buruk adalah sebuah rahmat dan kenikmatan yang seandainya tersingkap untuknya maka dia akan lebih senang dengan ketetapan buruk lebih banyak dibandingkan dengan ketetapan yang menyenangkan. Dan Allah subhanahu wa ta'ala maha mengetahui terhada[ apa yang menjadi maslahat untuk hamba-Nya. (lihat: Faidhul Qadiir 1/368)
(3) H.R. Ibnu Majah no. 3803 dan dihasankan oleh Al-Albani
(4) yaitu seluruh jasad kita dan seluruh yang kita miliki semuanya adalah milik Allah subhanahu wa ta'ala dan ciptaan-Nya. (lihat: Mirqootul Maffatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1166)
(5) yaitu segala sesuatu milik hamba adalah sebuah pinjaman yang harus dikembalikan, dan segala sesuatu berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Jika seorang hamba meyakini hal ini dan dia bersabar ketika ditimpa musibah, maka musibah tersebut akan menjadi mudah baginya. (lihat: Mirqootul Maffatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1166-1167)
(6) dan فِيْ bermakna sebagai sebab, maksudnya berikanlah aku pahala karena sebab musibah yang menimpaku. (lihat: Mirqootul Maffatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1167)
(7) maksudnya berikanlah aku ganti terhadap sesuatu yang telah hilang dariku dari musibah ini. (lihat: Mirqootul Maffatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1167)
(8) H.R. Muslim no. 918. Ummu Salamah berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah kemudian mengucapkan doa ini, melainkan Allah akan memberikan pahala atas musibahnya dan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya.” Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku mengucapkan doa ini. Lalu Allah menggantikannya dengan yang lebih baik darinya yaitu Rasulullah.’ (Lihat: Mirqatul Mafatih Li ‘Ali Al-Qari 5/2106) "
(1) H.R. Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir no. 10379, memiliki sanad yang shahih menurut al-Haitsami (lihat Majma’ az-Zawaid 10/159) dan juga menurut Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1543
Asal dari doa ini adalah kisah dimana Nabi kedatangan tamu namun beliau tidak memiliki apa-apa untuk bisa menjamu tamu beliau. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Masúd radhiallahu ánhu, beliau berkata :
ضَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَرْسَلَ إِلَى أَزْوَاجِهِ يَبْتَغِي عِنْدَهُنَّ طَعَامًا، فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ، فَقَالَ: «اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ؛ فَإِنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا إِلَّا أَنْتَ» ، فَأُهْدِيَتْ إِلَيْهِ شَاةٌ مَصْلِيَّةٌ، فَقَالَ: «هَذِهِ مِنْ فَضْلِ اللهِ، وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ الرَّحْمَةَ»
“Nabi shallallahu álaihi wasallam kedatangan tamu, maka Nabi mengirim utusan kepada istri-istrinya untuk mencari makanan. Akan tetapi ternyata tidak ada makanan sama sekali pada seorangpun dari istri-istrinya. Maka Nabi berdoa “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tambahan karunia-Mu dan rahmat-Mu, karena sesungguhnya tidak ada yang memilikinya kecuali Engkau”. Lalu Nabi mendapat hadiah seekor kambing panggang. Maka Nabi berkata, “Ini termasuk karunia Allah, dan kita sedang menanti rahmatNya”.
الفَضْلُ adalah الزِّيَادَةُ عَنِ الاِقْتِصَارِ tambahan dari sekedar hanya kecukupan (lihat al-Mufrodaat fi ghoriib al-Qurán hal 639). Yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta tambahan karunia dari Allah, karena Allah yang telah memerintahkan itu dalam firmanNya وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِه “Dan mohonlah kepada Allah sebagian karuniaNya” (QS An-Nisaa : 32), juga firmanNya قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاء “Katakanlah sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karuniaNya kepada siapa yang dikehendakiNya” (QS Ali ‘Imron : 73). Dan tidak ada yang memiliki rahmat dan karunia yang sesungguhnya kecuali Allah.
(1) H.R. Nasa’i no. 4683 dan dishahihkan oleh Al-Albani. Adapun lafal haditsnya secara lengkap, dari Abdullah bin Abi Robi’ah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
اسْتَقْرَضَ مِنِّي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعِينَ أَلْفًا، فَجَاءَهُ مَالٌ فَدَفَعَهُ إِلَيَّ، وَقَالَ: «بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، إِنَّمَا جَزَاءُ السَّلَفِ الْحَمْدُ وَالْأَدَاءُ»
Nabi shallallahu álaihi wasallam meminjam uang dariku 40 ribu dirham, maka beliau mendapat harta lalu beliau membayarkannya kepadaku dan beliau berkata “Baarokallahu laka fi ahlika wa maalika”, sesungguhnya balasan kepada memberi hutangan adalah pujian dan pelunasan“
“Allaahumma maalikal mulki tu'til mulka man tasyaa', wa tanzi'ul mulka mimman tasyaa', wa tu'izzu man tasyaa', wa tudzillu man tasyaa', biyadikal khoir, innaka 'alaa kulli syai-in qodiir, rohmaanad-dunyaa wal aakhiroti wa rohiimahumaa, tu'thiihimaa man tasyaa' wa tamna'u minhumaa man tasyaa', irhamnii rohmatan tughniinii bihaa 'an rohmati man siwaak.”
“Ya Allah, Pemilik Seluruh Kekuasaan. Engkau beri kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabutnya dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebaikan, dan Engkau Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu. Wahai Maha Pengasih di Dunia dan Akhirat dan Penyayang di keduanya, Engkau memberikan keduanya (dunia dan akhirat) kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, dan menahan keduanya dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Rahmatilah aku dengan rahmat-Mu yang menjadikanku tak lagi memerlukan belas kasih selain-Mu.”(1)
Translation shown in Indonesian — no English translation is in this corpus.